Islam Tonggak Sejarah Perjuangan Kopi


Seperti yang kita tau, budaya dan bahasa Indonesia itu banyak terpengaruh budaya bangsa lain, seperti budaya Cina, Belanda, Arab, dan juga beberapa bangsa lainnya. Tidak cuma Indonesia, budaya Arab juga tersebar ke seluruh dunia – dan kopi adalah salah satunya.

Selama ini banyak yang beranggapan bahwa kopi itu berasal dari Ethiopia, dan memang kopi sudah lama tumbuh di sana. Tapi kopi sebenernya baru dikenal orang Ethiopia sejak masuk ke Semenanjung Arab pada tahun 1100. Orang-orang Arab adalah orang-orang yang pertama menanam kopi, tapi ketika itu kopi tidak banyak dikenal orang. Kenapa?


Ketika agama Islam islam muncul di Jazirah Arab  dan mulai menyebar, Orang-orang Muslim dilarang minum alkohol, dan sebagai “pelarian”, orang-orang Arab ketika itu minum kopi yang efeknya cocok sama kehidupan agama Islam pada saat itu, dan kopi ini yang bikin mata jadi tidak ngantuk. Tidak hanya itu, kopi, atau “qahwa” ketika itu juga dipake oleh para sufi di Yemen sebagai bantuan untuk berkonsentrasi dan untuk membersihkan diri dari racun secara spiritual.

Dilarang bukan berarti semua orang jadi patuh kan? Ketika di Mekkah, Kairo, dan Istanbul kopi dilarang sama para pemuka agama, beberapa orang tetap ketemuan di kedai-kedai kopi untuk ngobrol, berpuisi, main catur, dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang intelektual dan para cendekiawan.

Acara kumpul-kumpul di kedai kopi ini akhirnya menarik perhatian pemerintah juga. Pada jaman pemerintahan Murad IV, orang yang ngopi dikenai sanksi hukum mati, tapi kemudian “hak” untuk ngopi diperjuangkan lagi sama para cendekiawan itu dan mereka membersihkan nama baik kopi lagi.
Kopi lalu tersebar ke Eropa melalui 2 jalur: Kerajaan Ottoman dan dari Mokha (Yemen) pada Abad 17. Pembeli utama kopi ketika itu adalah perusahaan-perusahaan dari Inggris dan juga VOC (Belanda) melalui Tanjung Harapan, lalu kemudian diekspor ke India dan sekitarnya.
Selain itu, kopi bisa mendarat ke Eropa melalui perdagangan di Mediterania dan dibawa para tentara Turki. Seperti halnya di Timur Tengah, di Eropa pun kedai-kedai kopi jadi tempat untuk ngobrol, pertemuan, membaca, berbagi pendapat, dan main catur. Tidak cuma itu, kopi di Eropa juga sempat mengalami “fitnah” dari Raja Charles II yang pada tahun 1675 bilang bahwa kedai kopi adalah tempat para pengkhianat bertemu dan berkumpul.
Baru seabad kemudian Procope, sebuah kedai kopi terkenal di Paris ketika itu, berkonspirasi dengan Marat, Danton dan Robespierre, dan mengadakan revolusi demi kopi.
Ketika baru tiba di Italia, kopi juga sempat dianggap sebagai “minuman kaum muslim”, sampe akhirnya Paus Clement VIII minum kopi dan sangat menyukainya. Paus malah bilang minuman seenak itu tidak boleh cuma dimonopoli oleh kaum Muslim dan harus “dibaptis” juga jadi minuman orang Eropa.
-
Menurut sumber lainnya, kopi itu disebarkan bersamaan dengan tersebarnya agama Islam di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Dulu, tidak ada satu pohon kopi pun yang tumbuh di Timur Tengah, dan semua biji kopi di sana harus diimpor. Selain itu, biji kopi itu harus direbus dulu atau disterilisasi.
Tersebutlah seorang sufi yang berasal dari India, yang bernama Baba Budan. Baba Budan ini pernah melakukan perjalanan relijius ke Timur Tengah pada Abad 17. Karena ketika itu kopi dilarang masuk di India, Baba Budan yang adalah penggila kopi dan tidak bisa tidak minum kopi ini mengikat beberapa tujuh bibit kopi di perutnya, dan menanamnya di kampung halamannya. Sejak itulah pohon kopi tersebar ke seluruh dunia.

Indonesia juga punya peranan penting dalam penyebaran kopi di dunia pada masa itu. Bangsa Belanda menyelundupkan kopi dan kemudian kopi masuk ke Indonesia. Mereka lalu membagikan tanaman kopi kepada teman-teman, sekutu, dan keluarga kerajaan. Raja Louis XIV yang juga mendapat tanaman kopi ini menanamnya di Royal Botannical Garden, yang kemudian menginspirasi seorang Angkatan Laut Prancis untuk menanam kopi di Martinique, padahal dilarang keras untuk melakukannya. Tapi dia tidak putus asa, dan terus menyebarkan tanaman kopi ini ke seluruh dunia setiap kali dia melakukan perjalanan, sampai akhirnya tanaman kopi juga tumbuh di Amerika Latin. Angkatan Laut yang bisa kita anggap sebagai pahlawan ini bernama Gabriel Mathieu de Clieu.
Di Brazil, orang juga awalnya dilarang untuk menanam kopi, tapi mereka terus mencari cara untuk mencuri bibit biji kopi dan membuat perkebunan kopi. Tidak heran, penyebaran tanaman kopi pada awalnya itu penuh dengan pencurian, penyelundupan, dan hal-hal lainnya yang melanggar hukum. Mereka mau melakukan semuanya demi kopi.
Tapi, tetap saja orang yang paling berjasa dalam penyebaran biji kopi ini adalah Baba Budan. Kesuksesan Sang Sufi ini berawal di perbukitan di Mysore, India. Sampai hari ini, kita masih menikmati perjuangannya, dan bahkan perkebunan asli milik Baba Budan ini sampai sekarang masih menghasilkan biji kopi, dan memakai merk “Budan Beans”.
-
 Pada Abad 13-15, agama Islam disebarkan oleh kaum Shadhiliyaa dengan menggunakan “qahwa” atau kopi. Minuman yang kemudian menjadi populer di antara kaum Sufi selalu diminum agar mata mereka selalu terjaga saat melakukan zikir. Bahkan seorang sufi yang bernama Shadhili Abu Bakr ibn Abd’Allah al-’Aydarus menulis sebuah lagu kasidah sebagai penghormatan terhadap kopi.
Sementara seorang ahli agama lainnya, Shaikh ibn Isma’il Ba Alawi, mengatakan bahwa kopi dalam membantu manusia untuk mengalami “qahwat al-Sufiyya” atau sukacita karena umatNya diperkenankan untuk menguak misteri pewahyuan Illahi. Penggunaan kopi pun sampai ke Mekkah, dan menurut para ahli sejarah Arab yang mula-mula, pernah ada tertulis seperti begini: “It was drunk in the Sacred Mosque itself, so that there was scarcely a dhikr or mawlid where coffee was not present.” – Jaziri Melalui para pengelana, pedagang, pelajar, dan para petualang, kopi akhirnya menyebar ke negara-negara Islam lainnya.

Al-Azhar kemudian menjadi pusat orang minum kopi, dan banyak kegiatan keagamaan yang menyertakan kopi ke dalam ritualnya. Pada Abad 16, seorang penulis mendeskripsikan pertemuan-pertemuan keagaam di Kairo seperti begini: “They drank coffee every Monday and Friday eve, putting it in a large vessel made of red clay. Their leader ladled it out with a small dipper and gave it to them to drink, passing it to the right, while they recited one of their usual formulas, mostly “La illaha il’Allah…” – Ibn ‘Abd al-Ghaffar Seorang Sufi yang berasal dari Yemen membuat ritual yang melibatkan acara minum kopi yang diikuti dengan “ratib” dengan menyebutkan nama “Ya Qawi” selama 116 kali.

Kopi dianggap sebagai sumber dari segala kekuatan. Kopi dalam sejarah Islam juga melibatkan para malaikat. Menurut sebuah legenda dari Persia, manusia yang pertama menikmati kopi adalah Nabi Muhammad yang ketika mengantuk disuguhi kopi oleh Malaikat Jibril. Dalam cerita lainnya, pada suatu hari Raja Salomo memasuki sebuah kota yang penduduknya sedang dilanda penyakit misterius. Atas perintah Malaikat Jibril, sang raja menyeduh kopi dan membagi-bagikannya kepada penduduk di kota itu, dan mereka pun semua menjadi sembuh.
Pada awal Abad 16, kopi di negara Arab mulai merambah dunia sekuler. Ahmet Pasha, Gubernur Mesir yang berkuasa ketika itu, membangun banyak kedai kopi sebagai proyek umum yang bertujuannya untuk popularitas politik. Pada pertengahan Abad 17, dua orang saudagar dari Syria, Hakm dan Shams, memperkenalkan kopi ke Istanbul dan usaha ini membuat mereka sangat kaya raya. Evliya Efendi menuliskan sesuatu tentang para saudagar kopi ini: “The Merchants of coffee are three hundred men and shops. They are great and rich merchants, protected by Shaikh Shadhili, who was girded by Weis-ul-karani with the Prophet’s leave.” – Evliya Efendi Namun, beberapa abad kemudian, kopi mulai dicurigai oleh banyak orang karena efek kafeinnya dan semangat “ngumpul” orang-orang karena kopi ini. Kedai kopi pun kemudian dianggap sebagai saingan masjid, dan kemudian dianggap sebagai minuman yang haram. “As to the coffee it is an innovation, which curtails sleep and the generating power in man. Coffee-houses are houses of confusion. Coffee has been by law declared illicit in the great collections of fetwas (legal injunctions) wherein every thing that is burnt is declared to be illegal food.” – Evliya Efendi Pada bulan Ramadan di tahun 1539, semua kedai kopi di Kairo dihancurkan oleh massa dan ditutup selama beberapa hari. Sultan Murat IV kemudian memutuskan untuk melarang adanya kedai kopi, dan pelarangan ini didukung oleh kaum moralis.

Tapi akhirnya “perang” ini dimenangkan oleh kaum peminum kopi yang memang berpendidikan lebih tinggi, sangat religius dan mempunyai kedudukan politik. Berdasarkan kisah-kisah di atas, kita belajar bahwa banyak manusia merasa nggak aman dan merasa takut pada hal-hal yang nggak mereka kenal dan ketahui. Ketika kita belajar untuk memahami hal-hal yang asing, mungkin kita akan lebih bisa menerima dan nggak merasa terancam lagi.


Sumber refrensi : kompasnia.com, kopikeliling.com, media luar negeri
Sumber gambar: gourmet-coffee.com dan beberapa sumber lainnya di google.com



Kampoeng Arab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

METODE PEMBAYARAN

METODE PEMBAYARAN